Minggu, 31 Mei 2020

PENGERTIAN BAHASA

Bahasa adalah kemampuan yang dimiliki manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya menggunakan tanda, misalnya kata dan gerakan. Perkiraan jumlah bahasa di dunia beragam antara 6000-7000 bahasa. Bahasa alami adalah bicara atau bahasa isyarat, tetapi setiap bahasa dapat disandingkan ke dalam media kedua menggunakan stimulus audio, visual, atau taktil, contohnya braille.

            Sementara manusia memiliki kemampuan untuk mempelajari bahasa apapun, mereka hanya melakukan hal tersebut jika mereka tumbuh dalam suatu lingkungan yang memiliki bahasa dan digunakan oleh yang lain.

            Banyak bahasa juga memiliki konvensi tata bahasa yang mensinyalkan posisi sosial dari pembicara dengan relasi dengan yang lain lewat penggunaan tingkat nama yang berkaitan dengan pemisahan sosial.

 

 

Fungsi Dan Peranan Bahasa Indonesia Dalam Kegiatan Sehari-Hari

Pada dasarnya, bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk mengekspresikan diri, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan. Bahasa Indonesia adalah alat pemersatu bangsa Indonesia yang memiliki banyak perbedaan, baik dari segi suku, agama, ras, adat istiadat dan budaya yang masing-masing memiliki bahasa daerah tersendiri. Oleh karena itu, keberadaan bahasa Indonesia sangatlah penting bagi masyarakat Indonesia itu sendiri. Bahasa Indonesia merupakan penunjang aktivitas masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai alat komunikasi, bahasa memiliki peranan yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Dalam kehidupan sehari-hari kegunaan bahasa sangat penting dalam menunjang aktivitas kehidupan bermasyarakat, tanpa bahasa mungkin dunia ini tidak akan seperti sekarang ini dan karena manusia tidak bisa melakukan apa-apa tanpa bahasa. Untuk berkomunikasi dengan seseorang kita pasti menggunakan bahasa, contoh seorang dosen yang menyampaikan materi kuliah, seorang guru yang menyampaikan pelajaran, seorang pedagang  yang menawarkan dagangannya, seorang atasan yang memberikan perintah kepada bawahannya, dan banyak lagi contoh lainnya, dan pasti itu semua menggunakan bahasa dalam melakukan aktivitasnya.

Dalam aspek kehidupan sosial, bahasa Indonesia juga memiliki peranan yang sangat vital dalam rangka menyelesaikan persoalan-persoalan sosial masyarakat. Dewasa ini, kita sering dihadapkan dengan masalah-maslah sosial. Perbedaan suku, ras, golongan, dan agama sering menjadi pemicu terjadinya pertikaian atupun hanya karena kesalahpahaman semata.

Bahasa pun dapat menjadi kontrol sosial yang sangat efektif . Kontrol sosial ini dapat di terapkan di diri sendiri maupun di lingkungan. Ceramah agama atau dakwah pun dapat di kategorikan sebagai alat kontrol sosial. Contoh fungsi bahasa sebagai alat control sosial adalah sebagai alat peredam marah yaitu dengan cara menulis dengan menulis maka amarah kita akan hilang secara dikit demi dikit dan masalah menjadi lebih terang

 

Makna Bahasa Indonesia Dalam Kehidupan Sehari Hari

Dalam berkomunikasi sehari-hari, salah satu alat yang paling sering digunakan adalah bahasa baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Begitu dekatnya kita kepada bahasa, terutama bahasa Indonesia, sehingga tidak dirasa perlu untuk mendalami dan mempelajari bahasa Indonesia secara lebih jauh. Akibatnya, sebagai pemakai bahasa, orang Indonesia tidak terampil menggunakan bahasa. Suatu kelemahan yang tidak disadari.

Komunikasi lisan atau nonstandar yang sangat praktis menyebabkan kita tidak teliti berbahasa. Akibatnya, kita mengalami kesulitan pada saat akan menggunakan bahasa tulis atau bahasa yang lebih standar dan teratur. Pada saat dituntut untuk berbahasa’ bagi kepentingan yang lebih terarah dengan maksud tertentu, kita cenderung kaku. Kita akan berbahasa secara terbata-bata atau mencampurkan bahasa standar dengan bahasa nonstandar atau bahkan, mencampurkan bahasa atau istilah asing ke dalam uraian kita. Padahal, bahasa bersifat sangat luwes, sangat manipulatif. Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk kepentingan dan tujuan tertentu. Lihat saja, bagaimana pandainya orang-orang berpolitik melalui bahasa. Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk kepentingan dan tujuan tertentu. Agar dapat memanipulasi bahasa, kita harus mengetahui fungsi-fungsi bahasa.

Pada dasarnya, bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial (Keraf, 1997: 3).

Derasnya arus globalisasi di dalam kehidupan kita akan berdampak pula pada perkembangan dan pertumbuhan bahasa sebagai sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Di dalam era globalisasi itu, bangsa Indonesia mau tidak mau harus ikut berperan di dalam dunia persaingan bebas, baik di bidang politik, ekonomi, maupun komunikasi.  Konsep-konsep dan istilah baru di dalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara tidak langsung memperkaya khasanah bahasa Indonesia. Dengan demikian, semua produk budaya akan tumbuh dan berkembang pula sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu, termasuk bahasa Indonesia, yang dalam itu, sekaligus berperan sebagai prasarana berpikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan iptek itu (Sunaryo, 1993, 1995).

Menurut Sunaryo (2000 : 6), tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa Indonesia) iptek tidak dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu bahasa Indonesia di dalam struktur budaya, ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda, yaitu sebagai akar dan produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa peran bahasa serupa itu, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan dapat berkembang. Implikasinya di dalam pengembangan daya nalar, menjadikan bahasa sebagai prasarana berfikir modern. Oleh karena itu, jika cermat dalam menggunakan bahasa, kita akan cermat pula dalam berfikir karena bahasa merupakan cermin dari daya nalar (pikiran).

Hasil pendayagunaan daya nalar itu sangat bergantung pada ragam bahasa yang digunakan. Pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar akan menghasilkan buah pemikiran yang baik dan benar pula. Kenyataan bahwa bahasa Indonesia sebagai wujud identitas bahasa Indonesia menjadi sarana komunikasi di dalam masyarakat modern. Bahasa Indonesia bersikap luwes sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai sarana komunikasi masyarakat modern.

 

Bahasa sebagai Alat Kontrol Sosial

Sebagai alat kontrol sosial, bahasa sangat efektif. Kontrol sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Berbagai penerangan, informasi, maupun pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran dan buku-buku instruksi adalah salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial.

Ceramah agama atau dakwah merupakan contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Lebih jauh lagi, orasi ilmiah atau politik merupakan alat kontrol sosial. Kita juga sering mengikuti diskusi atau acara bincang-bincang (talk show) di televisi dan radio. Iklan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Semua itu merupakan kegiatan berbahasa yang memberikan kepada kita cara untuk memperoleh pandangan baru, sikap baru, perilaku dan tindakan yang baik. Di samping itu, kita belajar untuk menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu hal.

Contoh fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah kita terapkan adalah sebagai alat peredam rasa marah. Menulis merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk meredakan rasa marah kita. Tuangkanlah rasa dongkol dan marah kita ke dalam bentuk tulisan. Biasanya, pada akhirnya, rasa marah kita berangsur-angsur menghilang dan kita dapat melihat persoalan secara lebih jelas dan tenang.

Bahasa sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial

Bahasa disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan, memungkinkan pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman itu, serta belajar berkenalan dengan orang-orang lain. Anggota-anggota masyarakat  hanya dapat dipersatukan secara efisien melalui bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi, lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok sosial yang dimasukinya, serta dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan dengan menghindari sejauh mungkin bentrokan-bentrokan untuk memperoleh efisiensi yang setinggi-tingginya. Ia memungkinkan integrasi (pembauran) yang sempurna bagi tiap individu dengan masyarakatnya (Gorys Keraf, 1997 : 5).

Cara berbahasa tertentu selain berfungsi sebagai alat komunikasi, berfungsi pula sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial. Pada saat kita beradaptasi kepada lingkungan sosial tertentu, kita akan memilih bahasa yang akan kita gunakan bergantung pada situasi dan kondisi yang kita hadapi. Kita akan menggunakan bahasa yang berbeda pada orang yang berbeda. Kita akan menggunakan bahasa yang nonstandar di lingkungan teman-teman dan menggunakan bahasa standar pada orang tua atau orang yang kita hormati.

Pada saat kita mempelajari bahasa asing, kita juga berusaha mempelajari bagaimana cara menggunakan bahasa tersebut. Misalnya, pada situasi apakah kita akan menggunakan kata tertentu, kata manakah yang sopan dan tidak sopan. Bilamanakah kita dalam berbahasa Indonesia boleh menegur orang dengan kata Kamu atau Saudara atau Bapak atau Anda? Bagi orang asing, pilihan kata itu penting agar ia diterima di dalam lingkungan pergaulan orang Indonesia. Jangan sampai ia menggunakan kata kamu untuk menyapa seorang pejabat. Demikian pula jika kita mempelajari bahasa asing. Jangan sampai kita salah menggunakan tata cara berbahasa dalam budaya bahasa tersebut. Dengan menguasai bahasa suatu bangsa, kita dengan mudah berbaur dan menyesuaikan diri dengan bangsa tersebut.

laporan praktikum biokimia lipid

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOKIMIA

“ Penetapan Angka Penyabunan “

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh :

Nama                  : Alisa Ramdani

NIM                   : D1A019194

Kelompok          : 4A

Asisten               : Delva Tria Viviana

 

 

 

 

 

LABORATORIUM ILMU BAHAN MAKANAN TERNAK

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

PURWOKERTO

2020

I PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Lipid berasal dari kata Lipos (bahasa Yunani) yang berarti lemak. Lipid adalah kelompok molekul alami yang meliputi lemak, lilin, sterol, vitamin yang larut dalam lemak, monogliserida, digliserida, trigliserida, fosfolipid, dan lain-lain. Lipid dibagi menjadi dua jenis yaitu lipid nabati dan lipid hewani. Lipid nabati adalah lemak yang dikandung oleh tumbuh-tumbuhan, contohnya alpukat, durian, dan lain-lain. Lemak alam ini terbentuk dari gliserol dan asam-asam lemak yang tidak jenuh sedangkan lipid hewani adalah lemak yang dikandung oleh hewan. Lipid hewani mengandung kolesterol sedangkan lipid nabati mengandung fitosterol, kadar asam lemak tidak jenuh. Kadar lemak tidak jenuh dalam lipid hewani lebih kecil daripada lipid nabati, lipid hewani cenderung berbentuk padat pada suhu kamar sedangkan lipid nabati cenderung berbentuk cair.

Lemak atau minyak adalah senyawa makromolekul berupa trigliserida, yaitu sebuah ester yang tersusun dari asam lemak dan gliserol. Jenis dan jumlah asam lemak penyusun suatu minyak atau lemak menentukan karakteristik fisik dan kimiawi minyak atau lemak. Lemak dan minyak merupakan senyawaan trigliserida atau triasgliserol, yang berarti “triester dari gliserol”, jadi  lemak dan minyak juga merupakan senyawa ester. Hasil hidrolisis lemak dan minyak adalah asam karboksilat dan gliserol.  

Asam lemak jenuh merupakan asam lemak yang mengandung  ikatan tunggal pada rantai hidrokarbonnya.  Asam lemak jenuh mempunyai rantai zig-zag yang dapat cocok satu sama lain, sehingga biasanya berwujud padat. Sedangkan asam lemak tak jenuh merupakan asam lemak yang mengandung satu ikatan rangkap pada rantai hidrokarbonnya .  asam  lemak dengan lebih dari satu ikatan dua tidak lazim,terutama terdapat pada minyak nabati,minyak ini disebut poliunsaturat. Trigliserida tak jenuh ganda (poliunsaturat) cenderung berbentuk minyak.

 

1.2 Tujuan

1.      Menetapkan angka penyabunan suatu lemak netral

1.3 Waktu Pelaksanaan

            Praktikum Biokimia Penetapan Angka Penyabunan dilaksanakan pada hari Rabu, 8 April 2020 pukul 14.30 s/d selesai menggunakan metode daring.

II TINJAUAN PUSTAKA

 

Lipid adalah kelompok molekul alami yang meliputi lemak, lilin, sterol, vitamin yang larut dalam lemak (seperti vitamin A, D, E, dan K), monogliserida, digliserida, trigliserida, fosfolipid, dan lain-lain. Fungsi biologis utama lipid termasuk menyimpan energi, pensinyalan, dan bertindak sebagai komponen pembangun membran sel. Lipid adalah jenis senyawa organic yang bersifat nonpolar. Karena nonpolar, lipid tidak larut dalam pelarut polar, seperti air atau alkohol, tetapi larut dalam pelarut nonpolar, seperti eter atau kloroform (Wijanarko, 2012).

Sabun merupakan bahan logam alkali dengan rantai monocarboxlylic yang panjang. Larutan alkali yang digunakan dalm pembuatan sabun bergantung pada jenis sabun tersebut. Larutan alkali yang biasa digunakan pada sabun keras adalah Natrium Hidroksida (NaOH) dan alkali yang biasa digunakan pada sabun lunak adalah Kalium Hidroksida (KOH). Sabun dibuat dengan dua cara yaitu proses saponifikasi dan proses netralisasi minyak. Proses saponifikasi minyak akan memperoleh produk sampingan yaitu gliserol, sedangkan proses netralisasi tidak akan memperoleh gliserol. Proses saponifikasi terjadi karena reaksi antara trigliserida dengan alkali, sedangkan proses netralisasi terjadi karena reaksi asam lemak bebas dengan alkali (Hasibuan, 2019).

Pembuatan sabun melibatkan teknologi kimia yang dapat mengontrol sifat fisika alami yang terdapat pada sabun. Sabun murni terdiri dari 95% sabun aktif dan sisanya air, gliserin, garam dan impuriti lain. Proses pembuatan sabun dikenal dengan istilah saponifikasi. Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis asam lemak oleh adanya basa. Sabun terutama mengandung C12 dan C16 selain itu juga mengandung asam karboksilat. Saponifikasi merupakan reaksi antara asam/lemak dengan basanya yang menghasilkan sabun dan gliserol merupakan produk samping (Sukeksi, 2017).

 

 

 

           

III MATERI DAN CARA KERJA

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat


1.      Erlenmeyer 250 ml

2.      Buret dan statik

3.      Becker glass

4.      Pemanas air

5.      Pipet volume

6.      Filler


3.1.2 Bahan


1.      Sampel minyak 1 gram

2.      Gelas ukur

3.      Filler

4.      Pemanas air

5.      Pipet volume

6.      Buret dan static


3.2 Cara Kerja

Sampel minyak 1 gram dimasukan kedalam Erlenmeyer 250 ml

  

Tambahkan etanol eter 3 ml dan KOH alkoholis 25 ml

Tambahkan 1 ml indikator phenolptalein

Catat HCl yang dipakai untuk titrasi

Titrasi dengan HCl 0,5 N

Di refluk selama 15 menit setelah itu biarkan dingin

 


 


IV HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1 Hasil

1.      Alat yang digunakan beserta fungsinya.

No

Alat

Fungsi

Gambar

1

Buret

Sebagai tempat larutan titran


2

Statis

Sebagai tempat penyimpanan buret


3

Erlenmeyer 250 ml

Sebagai tempat larutan yang akan dititrasi


4

Becker Glass

Sebagai tempat larutan yang akan dipanaskan, dicampurkan maupun diaduk


5

Pemanas air

Sebagai tempat untuk memanaskan larutan


6

Pipet volume

Sebagai tempat pengukuran jumlah larutan yang akan dianalisis


7

Filler

Sebagai alat penghisap atau pengambil larutan yang dipasang diujung pangkal pipet volume


 

2.      Fungsi bahan yang digunakan dalam praktikum angka penyabunan.

1. minyak 1 gram sebagai larutan sampel

2. 2 ml KOH Alkoholis untuk menghidrolisis lemak dari sabun

3. HCL Standar 0,5 N sebagai larutan titran

4. Etanol ether 3 ml sebagai pelarut lemak

5. 1 ml indicator phenolptalein sebagai indicator warna

 

3.      Mekanisme terjadinya penyabunan lemak netral, ketika titran HCL bereaksi dengan titer KOH dan akan selesai ketika titran HCL bereaksi dengan indicator phenolptalein. Hasil akhir titrasi larutan akan membentuk cairan tidak berwarna yang disebut asam lemak dan gliserol.

 

KOH + HCL                           KCL + H2O

 

4.      Apa yang disebut lipid disaponifikasi dan tidak disafonifikasi

Lipid disaponifikasi adalah lipid yang dapat menimbulkan reaksi hidrolisis lemak oleh adanya basa kuat, sedangkan lipid tidak disaponifikasi adalah lipid yang tidak dapat dihidrolisis dengan alkali panas.

 

5.      Diketahui : b   = 150 ml, a = 46 ml, g = 1 gram, Mr KOH = 56

            Ditanyakan : angka penyabunan?

                         =  = 2912 mg/g minyak

 

 

4.2 Pembahasan

             Lipid adalah kelompok molekul alami yang meliputi lemak, lilin, sterol, vitamin yang larut dalam lemak, monogliserida, digliserida, trigliserida, fosfolipid, dan lain-lain. Fungsi biologis utama lipid termasuk menyimpan energi, pensinyalan, dan bertindak sebagai komponen pembangun membran sel. Menurut Mulyawan (2018) modifikasi lipid merupakan perubahan pada komposisi maupun distribusi posisi asam lemak untuk memberikan berbagai manfaat antara lain pada perbaikan sifat fisik, sifat fungsional, dan sifat nutrisi.

            Lemak adalah zat organik yang tidak larut dalam air. Karena tidak larut dalam air, maka dibutuhkan pelarut lain untuk melarutkan lemak seperti kloroform, eter, dan benzena. Lemak disusun oleh unsur karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O). Komponen utama penyusun lemak disebut asam lemak. Menurut Suwandi dalam Maulinda (2017) asam lemak disusun oleh rangkaian karbon dan merupakanunit pembangun yang sifatnya khas untuk setiap lemak. Ikatan antara karbon yang satu dengan yang lainnya pada asam lemak dapat berupa ikatan jenuh dandapat pula berupa ikatan tidak jenuh/rangkap.

            Berdasarkan reaksi pembuatan sabun dan bahan yang digunakan dalam pembuatan, maka sabun didefinisikan sebagai garam alkali dari rantai panjang trigliserida (tersusun atas asam lemak). Reaksi kimia yang digunakan dalam pembuatan sabun disebut dengan reaksi saponifikasi (penyabunan). Hal ini sesuai dengan pendapat Bidilah (2017) yang menyatakan bahwa sabun  merupakan  senyawa  natrium  atau kalium dengan asam lemak dari minyak nabati atau lemak hewani berbentuk padat, lunak atau cair, dan berbusa. Sabun dihasilkan oleh proses saponifikasi, yaitu  hidrolisis  lemak  menjadi  asam  lemak  dan gliserol dalam kondisi basa

            Proses pembentukan sabun dikenal sebagai reaksi penyabunan atau saponifikasi, yaitu reaksi antar lemak netral atau gliserol dengan basa. Menurut Mirzayanti (2013) gliserol terdapat dalam bentuk campuran lemak hewan atau minyak tumbuhan. Gliserol jarang ditemukan dalam bentuk lemak bebas. Tetapi biasanya terdapat sebagai trigliserida yang tercampur dengan bermacam-macam asam lemak, misalnya asam stearat, asam palmitat, asam laurat serta sebagian lemak. Beberapa minyak dari kelapa, kelapa sawit, kapok, lobak dan zaitun menghasilkan gliserol dalam jumlah yang lebih besar dari pada beberapa lemak hewan tallow maupun lard. Gliserol juga terdapat secara ilmiah sebagai trigliserida  pada semua jenis hewan dan tumbuhan dalam bentuk lipida sebagai lecitin dan chepalins.

            Reaksi penyabunan (saponifikasi) merupakan reaksi eksotermis sehingga harus diperhatikan pada saat penambahan minyak dan alkali agar tidak terjadi panas yang berlebihan, penambahan larutan alkali KOH dilakukan sedikit demi sedikit sambil diaduk dan dipanasi untuk menghasilkan sabun cair.  Hal ini mengacu pada penelitian Wahyuni (2019) yang menyatakan bahwa asam oleat digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan foaming agent yang bertindak sebagai asam lemak, sedangkan alkali (NaOH dan KOH) berfungsi sebagai bahan penetral pada reaksi saponifikasi (netralisasi) dalam pembuatan foaming agent dan aquadest digunakan sebagai bahan pelarut untuk melarutkan alkali. Mula-mula reaksi penyabunan berjalan lambat karena minyak dan larutan alkali merupakan larutan yang tidak saling larut, setelah terbentuk sabun maka kecepatan reaksi akan meningkat sehingga reaksi penyabunan bersifat autokatalitik, dimana pada akhirnya reaksi akan menurun lagi karena jumlah minyak yang sudah berkurang.

              

           

 

 

 

 


 

V PENUTUP

 

5.1 Kesimpulan

Proses pembentukan sabun dikenal sebagai reaksi penyabunan atau saponifikasi, yaitu reaksi antar lemak netral atau gliserol dengan basa. Proses saponifikasi terjadi karena reaksi antara trigliserida dengan alkali, sedangkan proses netralisasi terjadi karena reaksi asam lemak bebas dengan alkali. Reaksi penyabunan (saponifikasi) merupakan reaksi eksotermis sehingga harus diperhatikan pada saat penambahan minyak dan alkali agar tidak terjadi panas yang berlebihan, penambahan larutan alkali KOH dilakukan sedikit demi sedikit sambil diaduk dan dipanasi untuk menghasilkan sabun cair.

 

5.2 Saran

Alangkah baiknya jika asisten memberikan gambar proses titrasi dalam bentuk gif atau video singkat, agar praktikan dapat membayangkan perubahan warna walaupun tidak praktikum secara langsung.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bidilah, S. A., O. Rumape., dan E. Mohamad. 2017. Optimasi Waktu Pengadukan dan Volume KOH Sabun Cair Berbahan Dasar Minyak Jelantah. Jambura. Journal of Educational Chemistry. 12(1): 55-60.

 

Hasibuan, R., F. Adventi., dan R. P. Rtg. 2019. Pengaruh Suhu Reaksi, Kecepatan Pengadukan dan Waktu Reaksi pada Pembuatan Sabun Padat Dari Minyak Kelapa (Cocos nucifera L.). Jurnal Teknik Kimia USU. 8(1): 11-17.

 

Maulinda, L., Z. A. Nasrul., dan N. Nurbaity. 2018. Hidrolisis Asam Lemak Dari Buah Sawit Sisa Sortiran. Jurnal Teknologi Kimia Unimal. 6(2): 1-15.

 

Mirzayanti, Y. W. 2013. Pemurnian Gliserol Dari Proses Transesterifikasi Minyak Jarak dengan Katalis Sodium Hidroksida. Jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya. Surabaya. 7.

 

Mulyawan, A., D, Hunaefi., dan P. Hariyadi. 2018. Karakteristik Lipid Terstruktur Hasil Transesterifikasi Enzimatik antara Minyak Ikan dan Minyak Kelapa Murni. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia. 21(2): 317-327.

 

Sukeksi, L., A. J. Sidabutar., dan C. Sitorus. 2017. Pembuatan Sabun dengan Menggunakan Kulit Buah Kapuk (Ceiba petandra) sebagai Sumber Alkali. Jurnal Teknik Kimia USU. 6(3): 8-13.

 

Wahyuni, S., dan A. Dhora. 2019. Saponifikasi-Netralisasi Asam Oleat Minyak Sawit Menjadi Foaming Agent Ramah Lingkungan. Journal of Agroindustrial Technology. 29(3): 317-326.

 

Wijanarko, B., dan L. D. Putri. 2012. Ekstraksi Lipid dari Mikroalga (Nanochloropsis sp.) dengan Solven Methanol dan Chloroform. Jurnal Teknologi Kimia dan Industri. 1(1): 130-138.

 

 

 


 

LAMPIRAN