Minggu, 31 Mei 2020

laporan praktikum biokimia lipid

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOKIMIA

“ Penetapan Angka Penyabunan “

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh :

Nama                  : Alisa Ramdani

NIM                   : D1A019194

Kelompok          : 4A

Asisten               : Delva Tria Viviana

 

 

 

 

 

LABORATORIUM ILMU BAHAN MAKANAN TERNAK

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

PURWOKERTO

2020

I PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Lipid berasal dari kata Lipos (bahasa Yunani) yang berarti lemak. Lipid adalah kelompok molekul alami yang meliputi lemak, lilin, sterol, vitamin yang larut dalam lemak, monogliserida, digliserida, trigliserida, fosfolipid, dan lain-lain. Lipid dibagi menjadi dua jenis yaitu lipid nabati dan lipid hewani. Lipid nabati adalah lemak yang dikandung oleh tumbuh-tumbuhan, contohnya alpukat, durian, dan lain-lain. Lemak alam ini terbentuk dari gliserol dan asam-asam lemak yang tidak jenuh sedangkan lipid hewani adalah lemak yang dikandung oleh hewan. Lipid hewani mengandung kolesterol sedangkan lipid nabati mengandung fitosterol, kadar asam lemak tidak jenuh. Kadar lemak tidak jenuh dalam lipid hewani lebih kecil daripada lipid nabati, lipid hewani cenderung berbentuk padat pada suhu kamar sedangkan lipid nabati cenderung berbentuk cair.

Lemak atau minyak adalah senyawa makromolekul berupa trigliserida, yaitu sebuah ester yang tersusun dari asam lemak dan gliserol. Jenis dan jumlah asam lemak penyusun suatu minyak atau lemak menentukan karakteristik fisik dan kimiawi minyak atau lemak. Lemak dan minyak merupakan senyawaan trigliserida atau triasgliserol, yang berarti “triester dari gliserol”, jadi  lemak dan minyak juga merupakan senyawa ester. Hasil hidrolisis lemak dan minyak adalah asam karboksilat dan gliserol.  

Asam lemak jenuh merupakan asam lemak yang mengandung  ikatan tunggal pada rantai hidrokarbonnya.  Asam lemak jenuh mempunyai rantai zig-zag yang dapat cocok satu sama lain, sehingga biasanya berwujud padat. Sedangkan asam lemak tak jenuh merupakan asam lemak yang mengandung satu ikatan rangkap pada rantai hidrokarbonnya .  asam  lemak dengan lebih dari satu ikatan dua tidak lazim,terutama terdapat pada minyak nabati,minyak ini disebut poliunsaturat. Trigliserida tak jenuh ganda (poliunsaturat) cenderung berbentuk minyak.

 

1.2 Tujuan

1.      Menetapkan angka penyabunan suatu lemak netral

1.3 Waktu Pelaksanaan

            Praktikum Biokimia Penetapan Angka Penyabunan dilaksanakan pada hari Rabu, 8 April 2020 pukul 14.30 s/d selesai menggunakan metode daring.

II TINJAUAN PUSTAKA

 

Lipid adalah kelompok molekul alami yang meliputi lemak, lilin, sterol, vitamin yang larut dalam lemak (seperti vitamin A, D, E, dan K), monogliserida, digliserida, trigliserida, fosfolipid, dan lain-lain. Fungsi biologis utama lipid termasuk menyimpan energi, pensinyalan, dan bertindak sebagai komponen pembangun membran sel. Lipid adalah jenis senyawa organic yang bersifat nonpolar. Karena nonpolar, lipid tidak larut dalam pelarut polar, seperti air atau alkohol, tetapi larut dalam pelarut nonpolar, seperti eter atau kloroform (Wijanarko, 2012).

Sabun merupakan bahan logam alkali dengan rantai monocarboxlylic yang panjang. Larutan alkali yang digunakan dalm pembuatan sabun bergantung pada jenis sabun tersebut. Larutan alkali yang biasa digunakan pada sabun keras adalah Natrium Hidroksida (NaOH) dan alkali yang biasa digunakan pada sabun lunak adalah Kalium Hidroksida (KOH). Sabun dibuat dengan dua cara yaitu proses saponifikasi dan proses netralisasi minyak. Proses saponifikasi minyak akan memperoleh produk sampingan yaitu gliserol, sedangkan proses netralisasi tidak akan memperoleh gliserol. Proses saponifikasi terjadi karena reaksi antara trigliserida dengan alkali, sedangkan proses netralisasi terjadi karena reaksi asam lemak bebas dengan alkali (Hasibuan, 2019).

Pembuatan sabun melibatkan teknologi kimia yang dapat mengontrol sifat fisika alami yang terdapat pada sabun. Sabun murni terdiri dari 95% sabun aktif dan sisanya air, gliserin, garam dan impuriti lain. Proses pembuatan sabun dikenal dengan istilah saponifikasi. Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis asam lemak oleh adanya basa. Sabun terutama mengandung C12 dan C16 selain itu juga mengandung asam karboksilat. Saponifikasi merupakan reaksi antara asam/lemak dengan basanya yang menghasilkan sabun dan gliserol merupakan produk samping (Sukeksi, 2017).

 

 

 

           

III MATERI DAN CARA KERJA

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat


1.      Erlenmeyer 250 ml

2.      Buret dan statik

3.      Becker glass

4.      Pemanas air

5.      Pipet volume

6.      Filler


3.1.2 Bahan


1.      Sampel minyak 1 gram

2.      Gelas ukur

3.      Filler

4.      Pemanas air

5.      Pipet volume

6.      Buret dan static


3.2 Cara Kerja

Sampel minyak 1 gram dimasukan kedalam Erlenmeyer 250 ml

  

Tambahkan etanol eter 3 ml dan KOH alkoholis 25 ml

Tambahkan 1 ml indikator phenolptalein

Catat HCl yang dipakai untuk titrasi

Titrasi dengan HCl 0,5 N

Di refluk selama 15 menit setelah itu biarkan dingin

 


 


IV HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1 Hasil

1.      Alat yang digunakan beserta fungsinya.

No

Alat

Fungsi

Gambar

1

Buret

Sebagai tempat larutan titran


2

Statis

Sebagai tempat penyimpanan buret


3

Erlenmeyer 250 ml

Sebagai tempat larutan yang akan dititrasi


4

Becker Glass

Sebagai tempat larutan yang akan dipanaskan, dicampurkan maupun diaduk


5

Pemanas air

Sebagai tempat untuk memanaskan larutan


6

Pipet volume

Sebagai tempat pengukuran jumlah larutan yang akan dianalisis


7

Filler

Sebagai alat penghisap atau pengambil larutan yang dipasang diujung pangkal pipet volume


 

2.      Fungsi bahan yang digunakan dalam praktikum angka penyabunan.

1. minyak 1 gram sebagai larutan sampel

2. 2 ml KOH Alkoholis untuk menghidrolisis lemak dari sabun

3. HCL Standar 0,5 N sebagai larutan titran

4. Etanol ether 3 ml sebagai pelarut lemak

5. 1 ml indicator phenolptalein sebagai indicator warna

 

3.      Mekanisme terjadinya penyabunan lemak netral, ketika titran HCL bereaksi dengan titer KOH dan akan selesai ketika titran HCL bereaksi dengan indicator phenolptalein. Hasil akhir titrasi larutan akan membentuk cairan tidak berwarna yang disebut asam lemak dan gliserol.

 

KOH + HCL                           KCL + H2O

 

4.      Apa yang disebut lipid disaponifikasi dan tidak disafonifikasi

Lipid disaponifikasi adalah lipid yang dapat menimbulkan reaksi hidrolisis lemak oleh adanya basa kuat, sedangkan lipid tidak disaponifikasi adalah lipid yang tidak dapat dihidrolisis dengan alkali panas.

 

5.      Diketahui : b   = 150 ml, a = 46 ml, g = 1 gram, Mr KOH = 56

            Ditanyakan : angka penyabunan?

                         =  = 2912 mg/g minyak

 

 

4.2 Pembahasan

             Lipid adalah kelompok molekul alami yang meliputi lemak, lilin, sterol, vitamin yang larut dalam lemak, monogliserida, digliserida, trigliserida, fosfolipid, dan lain-lain. Fungsi biologis utama lipid termasuk menyimpan energi, pensinyalan, dan bertindak sebagai komponen pembangun membran sel. Menurut Mulyawan (2018) modifikasi lipid merupakan perubahan pada komposisi maupun distribusi posisi asam lemak untuk memberikan berbagai manfaat antara lain pada perbaikan sifat fisik, sifat fungsional, dan sifat nutrisi.

            Lemak adalah zat organik yang tidak larut dalam air. Karena tidak larut dalam air, maka dibutuhkan pelarut lain untuk melarutkan lemak seperti kloroform, eter, dan benzena. Lemak disusun oleh unsur karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O). Komponen utama penyusun lemak disebut asam lemak. Menurut Suwandi dalam Maulinda (2017) asam lemak disusun oleh rangkaian karbon dan merupakanunit pembangun yang sifatnya khas untuk setiap lemak. Ikatan antara karbon yang satu dengan yang lainnya pada asam lemak dapat berupa ikatan jenuh dandapat pula berupa ikatan tidak jenuh/rangkap.

            Berdasarkan reaksi pembuatan sabun dan bahan yang digunakan dalam pembuatan, maka sabun didefinisikan sebagai garam alkali dari rantai panjang trigliserida (tersusun atas asam lemak). Reaksi kimia yang digunakan dalam pembuatan sabun disebut dengan reaksi saponifikasi (penyabunan). Hal ini sesuai dengan pendapat Bidilah (2017) yang menyatakan bahwa sabun  merupakan  senyawa  natrium  atau kalium dengan asam lemak dari minyak nabati atau lemak hewani berbentuk padat, lunak atau cair, dan berbusa. Sabun dihasilkan oleh proses saponifikasi, yaitu  hidrolisis  lemak  menjadi  asam  lemak  dan gliserol dalam kondisi basa

            Proses pembentukan sabun dikenal sebagai reaksi penyabunan atau saponifikasi, yaitu reaksi antar lemak netral atau gliserol dengan basa. Menurut Mirzayanti (2013) gliserol terdapat dalam bentuk campuran lemak hewan atau minyak tumbuhan. Gliserol jarang ditemukan dalam bentuk lemak bebas. Tetapi biasanya terdapat sebagai trigliserida yang tercampur dengan bermacam-macam asam lemak, misalnya asam stearat, asam palmitat, asam laurat serta sebagian lemak. Beberapa minyak dari kelapa, kelapa sawit, kapok, lobak dan zaitun menghasilkan gliserol dalam jumlah yang lebih besar dari pada beberapa lemak hewan tallow maupun lard. Gliserol juga terdapat secara ilmiah sebagai trigliserida  pada semua jenis hewan dan tumbuhan dalam bentuk lipida sebagai lecitin dan chepalins.

            Reaksi penyabunan (saponifikasi) merupakan reaksi eksotermis sehingga harus diperhatikan pada saat penambahan minyak dan alkali agar tidak terjadi panas yang berlebihan, penambahan larutan alkali KOH dilakukan sedikit demi sedikit sambil diaduk dan dipanasi untuk menghasilkan sabun cair.  Hal ini mengacu pada penelitian Wahyuni (2019) yang menyatakan bahwa asam oleat digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan foaming agent yang bertindak sebagai asam lemak, sedangkan alkali (NaOH dan KOH) berfungsi sebagai bahan penetral pada reaksi saponifikasi (netralisasi) dalam pembuatan foaming agent dan aquadest digunakan sebagai bahan pelarut untuk melarutkan alkali. Mula-mula reaksi penyabunan berjalan lambat karena minyak dan larutan alkali merupakan larutan yang tidak saling larut, setelah terbentuk sabun maka kecepatan reaksi akan meningkat sehingga reaksi penyabunan bersifat autokatalitik, dimana pada akhirnya reaksi akan menurun lagi karena jumlah minyak yang sudah berkurang.

              

           

 

 

 

 


 

V PENUTUP

 

5.1 Kesimpulan

Proses pembentukan sabun dikenal sebagai reaksi penyabunan atau saponifikasi, yaitu reaksi antar lemak netral atau gliserol dengan basa. Proses saponifikasi terjadi karena reaksi antara trigliserida dengan alkali, sedangkan proses netralisasi terjadi karena reaksi asam lemak bebas dengan alkali. Reaksi penyabunan (saponifikasi) merupakan reaksi eksotermis sehingga harus diperhatikan pada saat penambahan minyak dan alkali agar tidak terjadi panas yang berlebihan, penambahan larutan alkali KOH dilakukan sedikit demi sedikit sambil diaduk dan dipanasi untuk menghasilkan sabun cair.

 

5.2 Saran

Alangkah baiknya jika asisten memberikan gambar proses titrasi dalam bentuk gif atau video singkat, agar praktikan dapat membayangkan perubahan warna walaupun tidak praktikum secara langsung.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bidilah, S. A., O. Rumape., dan E. Mohamad. 2017. Optimasi Waktu Pengadukan dan Volume KOH Sabun Cair Berbahan Dasar Minyak Jelantah. Jambura. Journal of Educational Chemistry. 12(1): 55-60.

 

Hasibuan, R., F. Adventi., dan R. P. Rtg. 2019. Pengaruh Suhu Reaksi, Kecepatan Pengadukan dan Waktu Reaksi pada Pembuatan Sabun Padat Dari Minyak Kelapa (Cocos nucifera L.). Jurnal Teknik Kimia USU. 8(1): 11-17.

 

Maulinda, L., Z. A. Nasrul., dan N. Nurbaity. 2018. Hidrolisis Asam Lemak Dari Buah Sawit Sisa Sortiran. Jurnal Teknologi Kimia Unimal. 6(2): 1-15.

 

Mirzayanti, Y. W. 2013. Pemurnian Gliserol Dari Proses Transesterifikasi Minyak Jarak dengan Katalis Sodium Hidroksida. Jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya. Surabaya. 7.

 

Mulyawan, A., D, Hunaefi., dan P. Hariyadi. 2018. Karakteristik Lipid Terstruktur Hasil Transesterifikasi Enzimatik antara Minyak Ikan dan Minyak Kelapa Murni. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia. 21(2): 317-327.

 

Sukeksi, L., A. J. Sidabutar., dan C. Sitorus. 2017. Pembuatan Sabun dengan Menggunakan Kulit Buah Kapuk (Ceiba petandra) sebagai Sumber Alkali. Jurnal Teknik Kimia USU. 6(3): 8-13.

 

Wahyuni, S., dan A. Dhora. 2019. Saponifikasi-Netralisasi Asam Oleat Minyak Sawit Menjadi Foaming Agent Ramah Lingkungan. Journal of Agroindustrial Technology. 29(3): 317-326.

 

Wijanarko, B., dan L. D. Putri. 2012. Ekstraksi Lipid dari Mikroalga (Nanochloropsis sp.) dengan Solven Methanol dan Chloroform. Jurnal Teknologi Kimia dan Industri. 1(1): 130-138.

 

 

 


 

LAMPIRAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar